Sabtu, 16 Mei 2015

Takhrij Hadits Anjuran Menikah Untuk Para Pemuda


Teks Hadits
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ،            
                                    وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ 
­“Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian yang mempunyai kemapuan untuk menikah, hendaklah ia menikah. Sesungguhnya menikah itu dapat menahan pandangan mata dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa diantara kalian yang belum mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu benteng(peredam syahwat).”

Takhrij Hadits

SHAHIH. Diriwayatkan oleh Al Bukhari 9/106-Fathul Baari-, Muslim 9/172-syarh Nawawi-, Abu Dawud 6/39-41-‘Aunul Ma’bud-, An Nasa’I 6/56-57, Tirmidzi 4/199-Tuhfatul Ahwadzi-, Ibnu Majah 1/566-567, Ad Darimi 2/57, Ahmad dalam Al Musnad 1/472,425,432, At Thayalisi 272, Humaidi 115, Abdurrazaq 10380, Ibnu Abi Syaibah 4/126, Ath Thabrani dalam (Mu’jam) al Kabir 10/10168,10169,10170,10171, Al Baihaqi 7/77, Al Khattabi dalam At Tarikh 3/156, Ibnul Jarud 672-Ghatsul Makdud- dan Al Baghawi dalam Syarh Sunnah 9/403 dari Abdullah bin Mas’ud radiyallahu’ahuma[1].

Sanad Hadits
Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abi Syaibah: Telah menceritakan kepada Kami Jarir dari al ‘Amasy dari Ibrahim dari Al Qomah[2].
Telah menceritakan kepada kami  Abu Hasyim bin Ziyad bin Ayyub, Waki berkata kepada kami, dari al ‘Amasy, dari Umarah bin Umair dari Abdurrahman bin Yazid dari Abdullah(bin Mas’ud) secara marfu’.[3]

Komentar Para Ulama
Syaikh Albani rahimahullah berkata,”Sanadnya Shahih menurut syarat Syaikhain(Bukhari-Muslim) dan juga dikeluarkan oleh keduanya, dishahihkan oleh Imam Tirmidzi dan Ibnul Jarud.”[4]
Imam Tirmidzi rahimahullah berkata,”Hadits hasan shahih.”
Syaikh Abu Ishaq al Khuwaini-hafidzallah-berkata,”Sanadnya Shahih.”[5]
Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah,”Sanadnya Shahih.”[6]
Kesimpulannya bahwasanya hadits ini shahih dan diterima, cukuplah dua syaikh(Bukhari dan Muslim) telah meriwayatkan hadits ini dalam kedua kitab shahih mereka.

Kandungan Hadits
Dalam hadits dan pesan Nabi yang mulia ini terdapat anjuran bagi para pemuda secara umum untuk menikah demi menjaga kesucian diri, mengekang pandangan mata, dan memelihara kemaluan.
Sabda Nabi yang menyebutkan: “Barangsiapa yang mempunyai kemapuan untuk menikah” maksudnya barangsiapa yang mampu memikul beban dan resiko pernikahan. Menurut satu pendapat disebutkan bahwa sabda tersebut maksudnya barangsiapa yang mampu bersetubuh. Dikatakan demikian karena secara umum kata al ba’ah secara bahasa berarti jima’. Ada pula yang menafsirkan dengan pengertian mampu menanggung resiko pernikahan dan makna yang sejenis, mengingat kata al ba’ah disini digunakan untuk pengertian sesuatu sebagaimana yang menjadi kelazimannya. Artinya, barangsiapa diantara kalian yang mampu menanggung resiko pernikahan, hendaklah ia menikah. Demikianlah yang disebutkan Imam Nawawi.[7]
Sebagian ulama ada yang mennganggap pernikahan merupakan hal yang wajib bagi orang yang mempunyai kemampuan dan dia merasa khawatir akan terjerumus dalam perbuatan zina. Menurut hemat saya,-wallahu ‘alam-pendapat inilah yang rajih(jelas)[8], khususnya untuk zaman yang sulit seperti sekarang ini banyak terjadi fitnah di dalamnya.
Berdasarkan pengertian tersebut, berarti orang yang tidak menikah secara otomatis terjerumus ke dalam fitnah, baik fitnah terjerumus ke dalam  perbuatan keji-naudzubillah-bagi sebagian pemuda, maupun banyak melakukan hal-hal yang diharamkan tetapi dalam tingkat bawah perbuatan zina[9] bagi sebagian generasi pemuda lainnya.
Ringkasnya, Islam menganjurkan untuk menikah dan secara khusus memprioritaskan bagi  mereka yang mampu melaksanakannya.[10]

Pekalongan, 28 Rajab 1436 H-ba’da shubuh-

Saiful Abu Zuhri



[1] Disarikan dari Ghatsul Makdud fi takhrij Hadits al Muntaqo Ibnul Jarud 3/15
[2] Lihat takhrij Induk Shahih Sunan Abu Dawud no. 1578
[3] Ghatsul Makdud fi Takhrij Al Muntaqo Ibnu Jarud 3/15
[4] Lihat takhrij Shahih Sunan Abu Dawud induk 6/286, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 1507, Shahih Sunan An Nasa’I no.  3210,3211
[5] Lihat Ghatsul Makdud no.672
[6] Lihat Musnad Ahmad no. 3592-Syarh dan Takhrij Syaikh Ahmad Syakir-.
[7] Tampaknya penulis merujuk ke kitab Syarh Shahih Muslim.
[8] Menurut saya rajih itu bukannya artinya paling kuat, dikatakan pendapat yang paling rajih itu artinya pendapat yang paling kuat. Allahu’alam.
[9] Tingakat bawah dari perbuatan zina semisal onani, masturbasi dan yang lainnya. Para ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil akan haramnya perbuatan onani. Allahu’alam.
[10] Diambil dari  buku 25 wasiat Rasullah shalallahu’alaihi wa sallam dalam menuju rumah tangga sakinah oleh ‘Adil Fathi Abdullah.

Kamis, 05 Maret 2015

Kisah Wafatnya Nabi Adam ‘Alaihi sallam


Kisah
Dari Utay[1] dia berkata: “Aku pernah melihat seorang yang sudah tua di madinah sedang  memberikan nasehat. Maka aku bertanya tentang dirinya, manusia mengatakan: “Beliau Ubay bin Ka’ab radiyallahu’ahu.” Orang tua tersebut mengatakan: “Sesungguhnya tatkala Adam hendak meninggal dunia, ia berkata kepada anak-anaknya: “Wahai anakku, sesungguhnya aku rindu dengan buah-buahan di surge.” Maka mereka pun mencarikan untuknya. Mereka bertemu dengan para malaikat yang membawa kain kafan dan minyak wangi (yang disiapkan untuk Adam). Mereka membawa kapak, sekop, serta alat penimbun. Lalu para Malaikat bertanya kepada anak-anak Adam, apa yang kalian inginkan dan apa yang kalian cari, serta hendak kemana kalian?” Mereka menjawab: “Bapak kami sedang sakit, ia ingin (memakan) buah-buahan surga.” Para malaikat menjawab: “kembalilah, karena inilah ajal yang telah ditentukan untuk bapak kalian.”  Maka mereka pun kembali, dan tatkala Hawa melihat mereka, ia langsung paham dan meminta kepada Adam (agar ditangguhkan ajalnya –pent), maka Adam menolak seraya mengatakan: “Menjauhlah engkau dariku, menjauhlah engkau dariku…! Sesungguhnya apa yang aku terima ini Karena sababmu juga[2], biarkan aku sendiri bersama para malaikat Rabbku.” Lalu para malaikat mencabut nyawa Adam, lalu memandikannya, mengkafaninya dan memberinya minyak wangi, lalu mereka menggalikan kubur dan membuat liang lahat, kemudian mereka menyolatinya, lalu masuk ke liang kubur dan meletakkan jasadnya ke dalam kubur, serta meletakkan batu-batu bata padanya, kemudian mereka keluar dari kubur dan meratakan dengan tanah, lalu mereka mengataka: “Wahai anak Adam ini adalah sunnah (syari’at) untuk kalian.”

Takhrij Kisah
Kisah di atas diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad bin Hambal dalam Zawa’id Musnad 5/136.
Al Hafidz Ibnu Katsir mengatakan: “Sanadnya shahih sampai kepada beliau, yakni Ubay bin Ka’ab.” (lihat Bidayah wa Nihayah 5/98).
Imam Al Haitsami berkata: “Hadits di atas diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad, dan rijalnya rijal shahih, kecual Utay bin Dhomroh, dia adalah seorang yang tsiqoh.” (lihat Majmu’ Zawa’id 8/199)
Dr. Sulaiman al Asyqor berkata: “Sekalipun hadits ini mauquf kepada Ubay bin Ka’ab, namun hadits ini dihukumi sebagai hadits marfu’ hukman (secara hukum sampai kepada Nabi shalallahu’alaihi wa sallam) karena hadits ini berbicara tentang sesuatu yang tidak mungkin didasarkan pada akal semata.”[3]

Mutiarah Kisah
1.      Disyariatkan mengurus jenazah seperti yang disebutkan dalam hadits di atas. Syariat tersebut syariat semua utusan, maka setiap praktik pengurusan jenazah yang tidak sesuai dengan yang telah disebutkan dalam kisah diatas adalah penyelewengan.[4]
2.      Para malaikat Allah diberi kemampuan untuk berubah wujud menjadi manusia biasa. Bahkan mereka bisa mengajari anak-anak Adam secara teori dan praktik.
3.      Kisah di atas menunjukkan tingginya akhlak anak-anak Nabi Adam, mereka menyerahkan kepada para malaikat perihal pengurusan jenzah yang memang mereka belum memliki ilmunya.
4.      Hendaknya seorang suami memperingatkan istrinya jika menyimpang dari jalan yang lurus. Allah telah memperingatkan kita dari bahaya sebagian istri dan anak-anak kita. Allah Ta’ala berfirman:Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah terhadap mereka.”[5]

Demikianlah kisah wafatnya Nabi Adam ‘alaihi sallam, semoga dapat bermanfaat bagi kita.[6]

Pekalongan, 9 Jumadil Ula 1436 H malam hari menjelang tidur

Saiful Abu Zuhri





[1] Beliau adalah Ibnu Dhomroh as Sa’di
[2] Nabi Adam mengisyaratkan kalimat tersebut karena dahulu ia keluar dari surga sebab memakan buah terlarang untuk memenuhi permintaan istrinya.
[3] Penulisnya tidak mencantumkan refrensi perkataan Dr. Sulaiman Al asyqor, kemungkinan lupa atau lalai, tapi saya berpendapat perkataan beliau ini diambil dari kitab beliau Shahih Qoshos Nabawi seperti yang saya pernah baca di ebook yang saya dapatkan di internet. Allahu’alam.
[4] Kitab yang paling bagus yang membahas masalah ini adalah kitab Ahkamu Jana’iz wa Bida’uha Karya Syaikh al Albani rahimahullah.
[5] Qs. At Taghabun[64}: 14
[6] Penulisan ini saya banyak mengambil dari majalah al Furqon edisi khusus ramadhan & syawal 1430 H pada rubric kisah-kisah Nyata hlm. 73-74

Kamis, 29 Januari 2015

Rumah Idaman Tidak Melanggar Syari’at


Rumah adalah bagian dari hidup kita. Dengan adanya rumah, seorang muslim bisa membangun keluarga yang diidam-idamkan. Rumah adalah madrasah dan tempat ibadah. Rumah juga penutup aurat. Bahkan tidak jarang orang mencari nafkah dengan bekerja di rumahnya.
Nikmat ini bertambah indah jika rumah tersebut tidak melanggar agama dari sisi perhiasannya. Bagaimanakah cara menghiasi dan membaguskan rumah yang benar? Ikuti ulasan berikut ini.

Rumah Adalah Nikmat Allah
Allah member nikmat kepada para hamba-Nya berupa rumah yang berfungsi untuk memberikan ketenangan bagi mereka. Merek bisa berteduh (dari panas dan hujan) dan berlindung (dari segala macam bahaya) di dalamnya. Juga bisa mendapatkan sekian banyak manfaat lainnya. Allah Ta’ala berfirman :
Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal.. (Qs. an Nahl : 80)
Maka boleh bagi siapa saja untuk membangun rumah, buka untuk sombong dan bangga-banggaan, melainkan untuk kebutuhan.

Bolehnya Menghias Rumah
Seorang muslim boleh memperbagus rumahnya dengan dicat, dibentuk indah, dan sebagainya. Allah berfirman :
Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di Hari Kiamat.” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-yat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (Qs. al ‘Araf : 32)
Hanya, perlu untuk selalu diingat, bahwa agama kita tidak membolehkan sikap berlebih-lebihan, boros, dan hambur-hamburan. Dengan demikian tidak pantas bagi seorang muslim untuk boros dan menghamburkan harta dalam menghias rumahnya, sampai terlihat rumahnya bagaikan bagaikan istana patung yang mengerikan!! Apa dan bagaimana cara kita memperbagus rumah yang kita diami dan tampati menjadi indah dan menyenangkan sesuai dengan syar’i?


Rumah Yang Paling Indah
Rumah yang paling indah adalah rumah yang selalu dipakai untuk ibadah; ditegakkan shalat di dalamnya dan selalu terdengar lantuna ayat al Qur’an. Inilah rumah idaman seorang muslim, rumah yang bisa member ketenangan dan kedamaian, membuat penghuninya semakin betah di rumah. Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda,”Permisalan rumah yang dibaca dzikrullah di dalamnya dan rumah yang tidak dibacakan dzikrullah seperti permisalan orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR. Muslim 1859)
Yang Dibenci dan Dilarang Dari Perhiasan Rumah
1.      Alas Lantai
Boleh menutupi lantai dengan alas tikar, karpet,permadani, dan lainnya seseuai dengan kebutuhan. Syaratnya alas lantai tersebut tidak terbuat dari sutra dan emas. Dari Jabir bin Abdillah radiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda,”Apakah kalian punya anma?” Jabir menjawab,”Dari mana kami punya amnat.”Kemudian aku berkata kepada isteriku,’singkirkan anmat milikmu.’ Isteriku menjawab,’Bukankah Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam tadi bilang, sesungguhnya kalian nanti akan punya anmat, maka aku biarkan anmat itu terhampar.” (HR. Bukhari 3631 dan Muslim 2083)
 Al Imam Muslim rahimahullah berkata,”Bab bolehnya mengambil anmat (sejenis alas lantai).” (lihat Shahih Muslim no. 2083)
Inilah dalil bolehnya alas lantai. Asalkan tidak terbuat dari sutera dan emas. Dan sebagian ulama menjelaskan tidak bolehnya menjadikan kulit binatang buas sebagai alas lantai, selimut, sarung bantal, dan sebagainya.
Dari Abu al Malih Ibnu Usamah dari bapaknya di berkata,”Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam melarang dari memakai kulit binatang buas dan mengendarai binatang buas.” (HR. Abu Dawud 4132, Tirmidzi 1771 dishahihkan oleh Albani dalam al Misykat 506)
Dalam kitab I’anah al Thalibi 1/79 disebutkan,”Haram menjadikan kulit binatang buas seperti singa sebagai alas hamparan. “
Saya berkata,”Apakah larangan Rasulullah ini juga berlaku seperti halnya pembuatan seperti dompet yang terbuat dari kulit buaya, kulit ular seperti yang biasa kita jumpai di pasar-pasar kaum muslimin sekarang???”
2.      Menutup dinding dengan kain dan semisalnya
Syariat ini memnolehkan Ka’bah ditutupi dengan kain sebagai bentuk pengagungan terhadapnya. Dan hal ini tidak dibolehkan pada dinding yang lain, baik tujuannya untuk perhiasan atau lainnya. Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda,” Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan kepada kita untuk menutupi batu dan tanah.” (HR. Muslim 2107)
Al Imam Nawawi rahimahullah berkata,”Hadits ini tidak menunjukkan haram, karena lafadznya hanya Allah yang memerintahkan kepada kita; lafadzh semacam ini tidak menunjukkan wajib atau sunnah dan juga tidak menunjukkan haram. Hadits ini hanya menunjukkan makruh menutupi dinding dan selainnya dengan penutup.” (lihat Syarh Shahih Muslim 14/86)
Terlepas dari perselisihan ulama dalam masalah ini, alangkah baiknya bagi seorang muslim untuk tidak menghiasi dinding rumahnya dengan penutup berupa kain, wallpaper, dan selainnya kecuali karena ada kebutuhan seperti untuk menolak panas, dingin, atau menutupi karena ada yang rusak dari dindingnya. Allahu’alam.  (lihat permasalah ini lebih luas dalam Fiqh al Abisah wal Zinah hlm. 353-355 oleh Abdul Wahhab Abdussalam Tawilah. Cet. Dar al Salam)
3.      Bel Lonceng
Dewasa ini sebagian rumah kaum muslimin telah diberi bel. Bahkan bel  tersebut sudah dimodifikasi dengan suara ‘Assalamu’alaikum’. Hukum asal menggunakan bel semacam ini dibolehkan selama tidak menggantikan syariat mengucapkan salam sebelum bertamu. Yang tidak boleh adalah menggunakan bel yang bermusik atau bel lonceng yang menyerupai bel agama non muslim. Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda,”Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan lonceng.” (HR. Muslim 2113)
Hadits ini menunjukkan dibencinya bahkan haram menggunakan bel, lonceng yang menimbulkan suara yang mungkar seperti music. Cukuplah suara bel ini dengan suara yang ringan tidak bermusik. Allahu’alam (lihat Syarh Shahih Muslim 1495)
4.      Perabot rumah tangga yang terbuat dari emas dan perak
Syariat islam mengharamkan bagi seluruh kaum lelaki dan wanita makan dan minum dari bejana yang terbuat dari emas dan perak Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda,”Janganlah kalian memakai sutera, dan janganlah kalian minum dari bejana yang terbuat dari emas dan perak dan jangan pula makan darinya. Karena sesungguhnya hal itu untuk mereka (orang kafir) di dunia dan untuk kita di akhirat.” (HR. Bukhari 5426 dan Muslim 2067)
Hadits sangat jelas menunjukkan haramnya makan dan minum dari bejana (seperti piring, gelas dan lainnya) yang terbuat dari emas dan perak. Hadits ini juga berlaku bagi lelaki dan wanita. (lihat al Mughni 1/77, al Majmu’ 1/289)
5.      Patung dan Foto
Telah menjadi keharusan bagi seorang muslim untuk tidak menghiasi rumahnya dengan patung-patung atau gambar makhluk bernyawa, karena Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda,”Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar.” (HR. Bukhari 3322 dan Muslim 2106)
Apabila gambar yang bernyawa saja dilarang apalagi patung! Apa pun alasannya, haram bagi seorang muslim memajang patung.

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah berkata,”Pendapat yang mengatakan haramnya menggambar dengan kamera adalah lebih berhati-hati. Dan yang mengatakan bolehnya adalah lebih sesuai dengan kaidah. Akan tetapi, pendapat yang membolehkan. Disyaratkan tidak mengandung perkara yang haram. Apabila mengandung perkara yang haram seperti momotert wanita ajnabi(bukan mahram), atau memotret untuk di gantung di kamar sebagai kenang-kenangan atau disimpan dalam album untuk di lihat dan dikenang, maka hal itu adalah haram karena mengambil gambar,foto, dan memanfaatkannya dalam perkara yan hina atau rendah, adalah haram menurut kebanyakan ahli Ilmu, sebagaimana sunnah shahihah telah menunjukkan akan hal itu.” (lihat Majmu’ Fatawa Rasa’il Ibnu Utsaimin 2/265-266). Allahu’alam.


Ditulis oleh Ustadz Abu Anisah Syahrul Fatwa di majalah al Furqon edisi 145 hlm. 73-75 dengan sedikit penambahan

Pekalongan, 30 Januari 2015